kristianinews.com
Glorifikasi Kesuksesan
Terlepas dari pelbagai problem integritas moral yang memungkinkan seseorang terjerat kasus korupsi, isu teologis agaknya juga punya andil. Pada 2006, Majalah Time membuat riset kecil tentang kecenderungan megachurch merengkuh Teologi Kemakmuran (Prosperity Gospel). Teologi Kemakmuran adalah konstruksi ajaran Kristen yang mengajarkan kesalehan ala Kristiani dapat dilihat dari keberlimpahan harta, kepemilikan properti, mobil mewah, kesehatan, dan aneka simbol kesuksesan hidup lain. Time menyebut 17 persen umat Kristen Amerika Serikat yang berafiliasi dengan megachurch telah mengamini Teologi Kemakmuran. Sebanyak 31 persen responden mengatakan: “Jika kita memberikan uang kepada Tuhan, maka Tuhan akan kembali memberikan kita berkat kelimpahan uang berlipat ganda.” Sebanyak 61 persen dari responden mengatakan Tuhan memang menghendaki umatnya kaya raya. Teologi Kemakmuran sebenarnya bukan barang baru dalam Gereja Protestan. Bermula dari ajaran yang dikembangkan di kalangan Pentakosta pada 1950-an, Teologi Kemakmuran mekar melalui pertemuan kebaktian kebangunan rohani (revival meeting) di pelbagai kota-kota besar di AS dan disebarkan oleh televangelist seperti Oral Roberts, A.A. Alen, dan T.L. Osburne. Tak dinyana, ajaran ini direspons secara positif oleh masyarakat Kristiani AS. Dalam konteks situasi pasca-Perang Dunia II, masuk akal jika Teologi Kemakmuran—yang mengkhotbahkan optimisme—diterima sebagai oase di tengah keputusasaan umat. Meski banyak dikritik oleh pemuka agama Protestan, ajaran Teologi Kemakmuran tampaknya masih digemari dan cenderung menjadi payung ideologis bagi megachurch Protestan Karismatik di seluruh dunia. Nama-mana seperti Jim Bakker sampai Joel Osteen (yang masuk dalam daftar 8 pendeta terkaya di AS, dengan total kekayaan 40 juta dolar) menjadi rujukan utama dan ikon gerakan Teologi Kemakmuran hari ini. Pakar teologi Oxford Tara Issabela Burton mengatakan Teologi Kemakmuran tidak berakar pada jantung kekristenan. Roh yang menghidupi Teologi Kemakmuran, ujar Burton, berasal dari semangat New Thought, sebuah filosofi yang dikembangkan Ralph Waldo Emerson dan psikolog William James. New thought menekankan manusia sedalam mungkin menggali potensi dirinya. Apa pun yang kita pikirkan dapat menjadi kenyataan, karena pikiran adalah landasan dari kenyataan material. Dalam imajinasi intelektual New Thought, bahagia adalah tanggung jawab setiap individu. Walhasil, bagi para pendukung New Thought, orang bisa mengubah kenyataan hidup selama ia mau berpikir positif. Ketika pemikiran ini dicangkokkan ke dalam kehidupan spiritual Kristen, rumusannya kira-kira seperti ini: jika kita percaya bahwa Allah akan memberikan kita kekayaan, kita akan memperoleh kekayaan; tentu dengan syarat dan ketentuan, misalnya, kewajiban kita menyerahkan minimal sepuluh persen dari total penghasilan bulanan ke gereja. Semangat self-help yang menjadi jantung dari New Thought ini rupanya memberi karakteristik tersendiri dalam ajaran Teologi Kemakmuran, termasuk dalam pandangan tentang ketimpangan sosial yang diartikulasikan sebagai problem mentalitas belaka. Dus, seorang teolong kemakmuran akan lebih mudah menyalahkan kaum miskin: “Menaburlah di ladang Tuhan, maka kamu akan menuai berkat (uang) berlipat ganda. Jika kamu miskin itu bukan salah Tuhan, itu salahmu karena tidak menabur berkat di jalan Tuhan”.

Dalam praktik Teologi Kemakmuran, Kekristenan yang secara tradisional meletakan ketimpangan sosial-ekonomi sebagai problem struktural justru dibonsai jadi kultus pengembangan diri. ide-ide individualisme radikal ini menjadi ladang yang subur bagi manipulasi. Tak sedikit petinggi megachurch yang akhirnya dilaporkan oleh jemaatnya atau terlebih dulu diciduk oleh penegak hukum karena penggelapan dana gereja, bahkan penghindaran pajak. Mengapa manipulasi ini cenderung terjadi? Karena Teologi Kemakmuran tidak memberikan hasil yang dijanjikan. Orang-orang yang terus berderma dalam jumlah besar tak kunjung mendapatkan “ganjaran balasan berlipat ganda” seperti yang dijanjikan. Mereka tetap berkubang dalam kesulitan ekonomi, tak berbeda dari orang-orang yang tak pernah datang ke megachurch. Beberapa orang memang sudah berkelimpahan harta benda sebelum mereka menjadi bagian dari megachurch, dan mungkin akan tetap kaya. Sementara yang miskin akan tetap miskin sekalipun sudah memeluk erat-erat ajaran Teologi Kemakmuran. Untuk menjustifikasi Teologi Kemakmuran, sang penganjur tentu harus terus terlihat sukses, sehat, dan kaya raya. Para penganjur Teologi Kemakmuran di Indonesia seperti Philip Mantofa dan Gilbert Lumoindong secara vulgar memamerkan kekayaan dan kemewahan hidup mereka di pelbagai platform media sosial. Bagaimanapun, brand image memang perlu dibangun untuk menopang klaim ajaran ini. Di titik itulah pintu menuju manipulasi dan korupsi terbuka lebar. Celakanya, watak Teologi Kemakmuran—dengan bahan bakar semangat self-help yang cenderung menekankan subjektivitas dan perasaan “nyaman”—membuat kontradiksi-kontradiksi ini tidak disadari penganutnya. Sangat sulit sejauh ini menemukan data akurat yang bisa menggambarkan penyebaran Teologi Kemakmuran di kalangan Kristiani Indonesia. Namun, jika melihat antusiasme publik Kristiani Indonesia dalam menghadiri, membeli tiket seminar, dan mengonsumsi pernak-pernik Teologi Kemakmuran, bisa diduga jika ajaran ini digemari banyak orang Kristen. Pertumbuhan Teologi Kemakmuran menemukan ruangnya dalam struktur ekonomi yang memiskinkan, mendorong problem intoleransi, dan konflik agraria. Agama, yang dalam pandangan Marx adalah candu bagi masyarakat, menemukan wujudnya yang paling gamblang dalam kegandrungan umat terhadap Teologi Kemakmuran. Meski demikian, persemaian Teologi Kemakmuran beserta segala ekses negatifnya mungkin bukan akar masalah. Sama halnya dengan fenomena pendeta sosialita terlibat tindak pidana korupsi. Mereka bukan akar masalah. Buat saya, Teologi Kemakmuran dan pendeta tajir adalah fenomena gunung es yang menunjukkan kegagalan gereja di Indonesia dalam mengenali dan menjadi bagian dari solusi untuk masalah-masalah sosial yang dihadapi umat.red.(sumber tirto)

Loading

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *