Kabid Bimas Kristen Sumut Dr.Arnot Napitupulu: sudah saatnya kita bergerak mulai dari sekarang.

KRISTIANINEWS.COM, Medan – Kementerian Agama RI, Melalui Dirjen Bimas Kristen mengadakan sosialisasi pedoman Rumah Ibadah Ramah Anak (RIRA). Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Kristen Dr. Arnot Napitupulu sebagai penyelenggara mengatakan, pencanangan RIRA bertujuan mengoptimalkan fungsi rumah ibadah yang dikembangkan menjadi tempat anak-anak berkumpul dan melakukan kegiatan positif, inovatif, kreatif.

Rumah ibadah yang masuk dalam RIRA adalah rumah ibadah yang memiliki sistem pelayanan holistik dan menjamin pemenuhan hak anak. Termasuk melindungi anak dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi anak, kerentanan, dan diskriminasi.

“Pencanangan RIRA juga bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan rumah ibadah dengan berorientasi pada kepentingan terbaik anak sesuai tumbuh kembangnya, tanpa kekerasan dan diskriminasi,” kata Kabid Bimas Kristen ini dalam keterangannya kepada Kristianinews.com

Acara ini dibuka via zoom oleh Pdt. Dr. Amsal Yowei, SE., M.Pd.K Direktur Urusan Agama Kristen, Kementerian Agama Republik Indonesia.

Pemateri pertama di isi oleh ibu Mariana Ariestyawati yang menjabat sebagai Tenaga ahli bidang Informasi/ juru bicara Kementerian Agama RI. Ibu Mariana menjelaskan visi pemerintah Mewujudkan Indonesia Layak Anak 2030 dan juga Dasar pijakan serta konvensi PBB Tahun 1948 tentang Anak, dan ada banyak lagi strategi yang akan dilakukan oleh para pengampu kepentingan dalam mewujudkan Gereja Ramah Anak di Indonesia ini.

Pemateri kedua tampil juga dengan sangat luar biasa Ibu Anggi Nujula Rahma Plt Asdep Pemenuhan Hak Anak atas kesehatan dan pendidikan juga menjabat Deputi bidang pemenuhan hak anak di kementerian pemberdayaan perempuan dan anak.

Dalam penjelasannya Program ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi rumah ibadah sebagai tempat pembelajaran. Lewat RIRA akan dilakukan berbagai kegiatan pengembangan bakat dan minat anak, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus. “Selain itu Gereja diharapkan mampu melakukan upaya pemenuhan hak anak, termasuk mencegah terjadinya perkawinan usia anak,” ujarnya.

Namun penguatan fungsi rumah ibadah memerlukan keterlibatan dan kerja sama antara pemerintah dan lembaga keagamaan yang mendukung pemerintah dalam upaya pemenuhan hak anak dan perlindungan dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi, kerentanan dan diskriminasi disegala bidang kehidupan.

“RIRA merupakan faktor pendukung untuk menjadi Kota Layak Anak. RIRA melibatkan lintas sektoral dalam lingkup pelaksanaan program dan kegiatan yang responsif bagi kepentingan terbaik bagi anak,” ujarnya.
Untuk sosialisi berkelanjutan diharapkan kolaborasi antar instansi pemerintahan di Sumut agar kelak RIRA bisa terlaksana dan kota layak anak bisa terwujud imbuhnya.

Strategi percepatan RIRA, di antaranya pemetaan potensi rumah ibadah, serta membuat rencana aksi seperti sosialisasi, advokasi, pelatihan fasilitator dan penguatan jejaring serta peran semua orang yang di sekitar gereja sebaiknya dilibatkan ujarnya. Df/kn

Loading

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *