Kristianinews – Jakarta, Berawal dari pernyataannya dalam sebuah video. Dalam video tersebut, Gilbert menyampaikan pendapatnya terkait kasus pembunuhan Brigadir Yosua oleh Ferdy Sambo.

“Kenapa seorang jenderal bintang dua bertindak kok ceroboh sekali, lalu ada isu-isu ada perselingkuhan yang terbongkar which is makin ke sini makin ke sini makin kelihatan garingnya, makin kelihatan kosongnya, Saudara-Saudara,” demikian cuplikan video berisi pernyataan Gilbert yang beredar di media sosial.

Gilbert mengungkapkan soal ‘harga diri keluarga’ yang kemudian membuat Ferdy Sambo gelap mata. Gilbert lalu menjelaskan peristiwa di Magelang seperti yang pernah disampaikan versi Putri Candrawathi dan Ferdy Sambo.

“Betul seperti yang berkali-kali diucapkannya soal harga diri keluarga dan makin ke sini makin terlihat jelas. Sebetulnya ada peristiwa yang terjadi di Magelang, tetapi malu diakui karena ini memang aib yang menakutkan kalau seorang istri jenderal bintang dua diperkosa oleh ajudannya. ‘Nggak mungkin, mana mungkin seorang brigadir berani’,” katanya.
Gilbert lalu mencontohkan kasus-kasus pemerkosaan yang melibatkan hubungan keluarga terdekat yang sangat mungkin terjadi dan dapat menimpa siapa saja.” Bicara tentang perkosaan, jangan pernah berkata tidak mungkin, bahkan kalau Saudara ketik saja di Google, anak perkosa ibu kandung juga ada, bapak perkosa anak kandung saja ada,” imbuhnya.

Selanjutnya, Gilbert menyampaikan soal dugaan kekerasan seksual yang diakui Putri Candrawathi telah dialaminya sehingga membuat Ferdy Sambo marah dan terjadi penembakan.

“Akhirnya makin terlihat bahwa cerita diceritakannya adalah diduga ada unsur kekerasan seksual atau unsur perkosaan yang tidak berani dinyatakan oleh Ibu (PC), lalu kemudian baru diceritakan ketika di Duren Tiga atau di Saguling dan ketika naik itu diceritakan, lalu mendatangkan amarah dan terjadi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi,” katanya.

Gilbert juga menyebutkan bahwa maksud Ferdy Sambo menyuruh Bharada E menembak bukan untuk membunuh, tetapi hanya memberikan ‘pelajaran’.

“Bharada E diperintahkan untuk menembak, tetapi maksudnya bukan membunuh, tetapi menyadarkan supaya dia mengakui perbuatannya karena tadinya menolak mengakui perbuatannya. Lalu apa yang terjadi? Pembunuhan itu terjadi, ada upaya untuk memanggil ambulans, berharap tidak fatal kejadiannya, tetapi meninggal. kebenaran harus benar dan kesalahan harus salah,” tutur Gilbert. Df/kn

Loading

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *