Medan – Kristianinews.com ; FIFA membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah piala dunia U-20 Mei mendatang, melalui laman resminya (29/03), Berita ini menjadi pembicaraan publik, belum jelas apa alasan pembatalan FIFA tersebut. Opini yang terlanjur terbentuk, pembatalan ini akibatnya ramainya penolakan timnas Israel yang juga akan berlaga di piala dunia U-20.

Ketua umum PSSI sudah mengadakan lobi-lobi tingkat tinggi, yang diamanatkan Presiden Jokowi untuk menemui Presiden FIFA, Gianni Infantino, ternyata tak mampu mengembalikan hak Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggara event skala dunia itu.

Para insan sepakbola nasional tentu kecewa sekaligus berduka. Mimpi melihat timnas muda tampil di piala dunia, harus terkubur dalam-dalam. Tak hanya berduka, insan sepakbola pun mengutuk tokoh-tokoh yang di awal telah mewacanakan penolakan ini sehingga berdampak gagalnya Indonesia menjadi tuan rumah.

Apakah ini kecerobahan Ganjar atau Kebodohan Timsesnya yang Salah Beri Masukan?

Sempat ada pemikiran, baiknya sejak awal Ganjar tak perlu ikut berkomentar mengikuti jejak koleganya sesama politikus PDI-P, I Wayan Koster yang juga Gubernur Bali, mungkin Ia tak bakal jadi sasaran tembak kekesalan publik, dan menguntungkan lawan politiknya. Dipastikan elektabilitas Ganjar terjun bebas, merosot jauh dibanding Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.

Ganjar hanya ‘korban’ salah dengar dari timnya yang kurang melakukan pendalaman dan riset tentang isu-isu sentral serta dampak buruk ketika mengeluarkan pernyataan di tengah keriuhan massa secara masif. Untuk yang satu ini, saya menyebutnya kebodohan yang sangat sulit dimaafkan.

Persoalan Ganjar mengaku pernyataannya terinspirasi dari sejarah penolakan Sukarno terhadap Israel di Asian Games 1962, untuk mendukung kemerdekaan Palestina, itu hanyalah pendapat pribadi yang mestinya tak perlu disampaikan di ruang publik. Apalagi Ia dalam posisi puncak dengan elektabilitas paling tinggi. sebagai kandidat kuat capres, Di sinilah letak blundernya.

Memang setuju bahwa sesuai amanat pembukaan UUD 1945, Indonesia menolak segala bentuk penindasan dan penjajahan di atas dunia, dan mendukung kemerdekaan negara-negara yang terjajah.

Tapi dalam hal ini tidak perlu dikaitkan politik dengan olahraga karena tensi dari masyarakat kita dalam menyambut perhelatan ini sangat tinggi.

Sekarang ini Perlu kerja super ekstra bagi tim pemenangan Ganjar untuk mengembalikan kepercayaan para pendukungnya dan masyarakat bawah apalagi para bolamania walaupun itu sebuah keniscayaan. Namun politik itu sangat unik dan cepat berubah dalam segala situasi dan kondisi. Dan biasanya siapa yang bisa memainkan peran yang sesuai selera rakyat itulah pemenangnya. Tak ubahnya seperti bola sulit diprediksi.

Dalam situasi seperti ini terus terang membuka peluang besar bagi Puan Maharani dan Alasan Megawati Untuk ‘Singkirkan’ Ganjar dari Bursa Capres PDI-P.

*Pengaruh Isu Israel dalam politik kita*

“Entah siapa yang salah” begitu penggalan lagu yang tenar ditiktok kadang lucu juga Israel menjadi sesuatu model yang sangat menarik diperbicangkan bahkan menjadi isu yang sangat seksi di negara ini apalagi saat pilpres biasanya ini dimainkan oleh para kaum radikal yang mau menjatuhkan lawan yang nasionalis. Tidak sulit untuk menciptakan isu agen Israel, mata” dan lain hal dialamatkan kepada seseorang yang arahnya nasional. Padahal kita tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel. Hal ini sangatlah merugikan kita banyak yang benci Israel tanpa alasan dan tanpa tau kenapa dibenci. Bahkan kadang kala kita sedang mewarisi sesuatu yg kurang bijak bagi generasi kita sekarang. Jangan sampai kita di cap GENERASI KEPO pengintau semua urusan orang termasuk Israel dan semua dikaitkan dengan politik padahal sadar atau tidak sadar kita hampir tiap hari memakai produk mereka mulai dari kesehatan, kecantikan dan lainnya. Jadilah generasi yang bijak.

Agoi amang nga loja jari-jariku mengetik…

Penulis:
Bishop Dikson Panjaitan

Loading

No comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *