KRISTIANINEWS.COM – ARSIP, Abdullah bin Abdulkadir biasa disebut Abdulkadir Munsyi adalah seorang guru bahasa (Munsyi) ia berjasa dalam penerjemah seluruh Alkitab dan guru bahasa bagi misionari William Milne dan Claudius Thomas yang membutuhkan guru bahasa Melayu maka beliaulah yang mengajarkan bahasa Melayu pada para misionari ini

Dan beliau salah satu penerjemah yang turut dalam penerjemahan nama Tuhan Yahweh yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan The Lord of God menjadi Tuhan Allah. Nama Allah untuk menerjemahkan kata Elohim/Theos/ Tuhan sebelumnya juga telah digunakan para penerjemah Ruyl 1629-1638. Sebab sebagai muslim beliau berpegang pada ajaran AlQuran bahwa Tuhan pencipta alam semesta bernama Allah bukan Yahweh. Maka jadilah kitab Kristen terjemahan bahasa Melayu semua bunyi aslinya Adonai Yahweh menjadi Toehan Allah, atau Yahweh Elohim menjadi Toehan Allah, sering kata Elohim atau Adonai atau Yahweh diterjemahkan menjadi Toehan atau menjadi Allah. Sekalipun Abdullah menerjemahkan pakai kata Allah untuk Yahweh (The Lord, God) Tapi Abdullah tidak setuju penggunaan istilah seperti Anak Allah, Firman Allah, Mulut Allah dalam terjemahan. Jadi seharusnya terjemahan akan menjadi Anak Toehan, Firman Toehan Mulut Toehan. Hal ini menjadi pertanyaan David DS Lumoindong kenapa beliau tidak setuju istilah tersebut tapi mengambil pilihan letakkan kata Allah pada terjemahan tersebut ?. Kemungkinan pertama karena beliau mengikuti terjemahan Injil oleh Ruyl tahun 1612 sebelumnya kitab Injil yang sudah pakai kata Allah, jadi menyesuaikan. Pilihan kedua jika tidak pakai Allah maka nama Allah sesuai pemahaman imannya akan tidak dimunculkan, maka pengertian kata tersebut bisa berbeda. Sekalipun beliau penerjemah dan guru bahasa Melayu tapi perlu di perhatikan bahwa keputusan penggunaan juga mendapat persetujuan dari para misionari masa tersebut, ada yang memiliki cara pandang nama Tuhan Yahweh boleh diganti di terjemahkan seperti dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris dan Belanda, tapi ada yang menulis terjemahan singkatan HUA untuk Yahweh. Sedangkan misionari yang miliki cara pandang penerjemahan sesuai nama aslinya tertulis Yahweh harus di terjemahkan Yahweh, pada masa kemudian mengkoreksi terjemahan sehingga terbit Alkitab terjemahan tertulis TOEHAN JAHWEH dalam terjemahan era Belanda.

Abdullah seorang ahli bahasa yang menguasai beberapa bahasa selain Arab, Melayu, Tamil, India juga Inggris. Ia menjadi penulis sejarah dan sastra Melayu. Beliaulah yang memberitahukan adanya sekolah muslim sejak abad 14 M.

Abdullah pernah bekerja sebagai penerjemah untuk Thomas Stamford Raffles sekira 1810-an. Tugas utamanya adalah menyalin naskah Melayu klasik yang kemudian membuka jalan menuju karier kesusasteraannya. { Ibrahim bin Ismail dalam The Printing of Munshi Abdullah’s Edition of the Sejarah Melayu in Singapore (1986) }.

Setelah Raffles kembali ke Inggris, Abdullah Munsyi mendapat tawaran pekerjaan penerjemahan oleh para misionaris. Dia menyetujui pekerjaan baru itu dan segera terlibat dalam proyek penerjemahan buku-buku misionaris dan Alkitab.

Lain itu, Abdullah juga berperan penting dalam penerjemahan buku-buku diktat untuk sekolah-sekolah misionaris. Sepanjang itu pula, dia menjadi sangat dekat dengan para misionaris Kristen dan bahkan turut mengajarkan bahasa Melayu untuk beberapa misionaris.

Seorang utusan misi the London Missionary Society (LMS) yang bernama William Milne yang datang ke Semenanjung Malaka pada tahun 1814 meminta pandangan guru bahasa Melayunya mengenai terjemahan Leijdecker. Guru bahasanya adalah Abdullah bin Abdul Kadir yang dikenal dengan sebutan Munsyi Abdullah. Munsyi Abdullah menilai terjemahan Leijdecker kurang wajar bahasanya dan penuh dengan istilah asing. Karena Munsyi Abdullah mengakui keabsahan Kamus Bahasa Melayu William Marsden, maka kamus ini dijadikan patokan untuk merevisi terjemahan Leijdecker. Dan yang mendapat tugas khusus untuk pekerjaan revisi ini adalah Claudius Thomsen seorang utusan LMS yang lain. Ia bekerjasama dengan Munsyi Abdullah guru bahasanya dalam tugas revisi itu. Thomsen selesai dengan revisi Matius pada tahun 1821. Dengan bantuan Robert Burns, Thomsen menyelesaikan revisi 4 Injil dan Kisah Rasul-rasul pada tahun 1832. Hasil revisi 4 Injil dan Kisah Rasul -rasul ini dicetak sebanyak 1500 eksemplar. Tetapi Munsyi Abdullah tidak puas dengan hasil pekerjaan Thomsen ini. Tetapi masalahnya bukan saja pemakaian bahasa melayunya, yang dipersoalkan juga istilah -istilah Kristiani seperti “Kerajaan Syurga”, “Anak Allah”, “Mulut Allah”, (Sabda/Firman Allah), “Bapa-ku yang ada di Syurga” dsb. Penambahan kata Allah oleh Munsyi menjadi janggal saat bertemu dengan kata “Anak Allah” yang tidak sesuai dengan pandangan muslim, ini di kritisi Abdullah. Sedangkan pada kitab asli bahasa Ibrani seharusnya pakai kata Elohim yang telah diterjemahkan ke Yunani menjadi Theos oleh Inggris diterjemahkan God.

Salah satu penyebab kekeliruan atau kejanggalan kerancuan terjemahan ini disebabkan selain penggantian nama Tuhan Yahweh menjadi Allah, juga disebabkan kurangnya di serap istilah bahasa daerah dalam menerjemahkan kata Adonai, Adon Elohim, Eloah, El, Theos, Kurios. Sehingga setiap kata tersebut tidak memiliki kata yang terwakili dalam bahasa Melayu. Sedangkan dalam

Abdullah juga semakin kaya wawasan berkat kedekatannya dengan lingkungan orang-orang Barat. Itu sebabnya beliau dituduh antek barat. Apalagi karena sikap kritisnya terhadap penguasa Melayu. Abdullah Munsyi sering mengkritisi penguasa Melayu yang sianggapnya mengisap rakyat miskin. Dia juga menyebut tabiat itu sebagai perintang masyarakat Melayu menuju kesejahteraan sosial. Kritik ini terdapat misalnya dalam naskah Kisah Pelayaran Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi dari Singapura ke Kelantan (1838).

Meski tak menyembunyikan sikap kritisnya terhadap kolonialisme Inggris, Abdullah Munsyi jugalah yang memperkenalkan pendidikan Barat melalui tulisan-tulisannya. Dia mencoba menginspirasi pembacanya untuk berkembang. Di sisi lain, dia juga mengkritik sekalangan orang Melayu yang memandang kemajuan sebagai sesuatu yang negatif.

Abdullah pun menekankan agar orang-orang Melayu berani melakukan perubahan dan meninggalkan gaya hidup lama demi kemajuan bangsanya.

Karya-karya orisinal Abdullah di antaranya bertema heroisme, fantasi, hingga ada pula yang bersifat faktual tentang eksploitasi dan feodalisme yang dialami orang-orang Melayu di Semenanjung. Karya-karya Abdullah itu kemudian diterbitkan dan didistribusikan sebagai buku babon literatur dunia Melayu. {Siti Hawa Haji Salleh dalam Malay Literature of the 19th Century (2010)},

Karya-karya Abdullah Munsyi menjadi pelopor sastra Melayu Modern. Tak ragu menyisipkan kritik terhadap feodalisme dan kolonialisme.usia yang baru 13 tahun, Abdullah telah pandai mengajarkan Islam kepada para prajurit India yang menetap di Semenanjung Malaka. Minatnya pada naskah-naskah Melayu kemudian membawanya pada studi bahasa Melayu yang lebih serius.

Di sesudah tahun 1810 Abdullah juga bersinggungan dengan Gubernur Jenderal India Lord Minto di Malaka. Lord Minto terkesan oleh kemahiran Abdullah Munsyi berbicara bahasa Hindi. Ketika Raffles mendirikan Singapura pada 1819, Abdullah kembali bekerja untuknya—bukan hanya sebagai penerjemah biasa, tapi lebih seperti sekretaris pribadi.

Abdullah lahir di Malaka tahun 178 . Ia nulai menulis pada usia empat tahun dengan “tulisan cakar ayam” yang ia terakan di papan tulis. Ia terserang penyakit disentri ketika berumur enam tahun. Setahun kemudian, sementara teman-teman sebayanya pada waktu itu sudah bisa melagukan ayat-ayat Al-Quran, ia masih belum bisa membaca Al-Quran. Justru ia belajar meniru tulisan-tulisan berbahasa Arab dengan penanya. Abdul Kadir, yang geram atas keterbelakangan anaknya, mengirim Abdullah ke Sekolah Qur’an Kampung Pali (Kampong Pali Koran School).

Masa di Sekolah Qur’an Kampung Pali adalah masa di mana Abdullah harus belajar dengan keras. Ia belajar menulis di bawah pengawasan ayahnya langsung. Abdul Kadir sendiri memang seorang yang berwatak keras. Ia tak segan menyuruh Abdullah untuk menulis nama-nama orang yang dijumpainya di masjid. Ia akan menghukum anaknya jika melakukan kesalahan atau belum sempurna menulis nama-nama itu. Ia juga menyuruh Abdullah menyalin keseluruhan ayat Al-Quran dan menerjemahkan teks-teks Arab ke bahasa Melayu.

Pada usia sebelas tahun, Abdullah memperoleh uang sebagai upah pekerjaannya menyalin teks Al-Quran. Ini adalah pekerjaan yang pertama kali ia lakukan dan merupakan titik awal bagi karirnya. Tiga tahun kemudian ia mengajar agama bagi sebagian besar tentara muslim yang ditempatkan di Benteng Melaka. Tentara menyebutnya munsyi, istilah Melayu untuk guru bahasa, gelar yang kemudian tersemat kepadanya hingga akhir hidupnya.

Didikan ayahnya yang keras dalam bidang agama dan pengetahuan umum mengantarkannya menjadi seorang guru bahasa dan mampu menguasai berbagai bahasa, di antaranya bahasa Arab, Tamil, India, Inggris, dan Melayu.

Ia merupakan seorang keturunan Arab, dari Yaman. Leluhurnya adalah guru agama dan guru bahasa Arab yang menetap di India Selatan. Abdullah yang lahir dan tinggal di Malaka beristrikan seorang Tamil. Lalu mereka pindah ke Malaka.

Abdullah merupakan peranakan Arab dan Tamil, namun dibesarkan di tengah budaya Melayu di Melaka, yang pada saat itu baru saja dijajah Britania. Dia bekerja sebagai guru bahasa (munsyi). Pada awalnya dia mengajarkan bahasa Melayu kepada tentara keturunan India di garnisun Melaka, di usia 13 tahun mereka memanggilnya guru (munsyi) sehingga kata itu kemudian melekat pada namanya. Ia kemudian bekerja pada para misionaris, pegawai dan pebisnis Britania dan Amerika Serikat. Dia pernah bekerja untuk Thomas Stamford Raffles sebagai juru tulis, menerjemahkan Injil serta teks agama Kristen lainnya untuk London Missionary Society di Malaka, dan menjadi pencetak untuk American Board of Missions di Singapura.

Wafat

Abdullah bin Abdulkadir Munsyi meninggal pada bulan Oktober 1854, di Jedah, Arab Saudi. Abdullah meninggal, kemungkinan karena penyakit kolera, pada saat hendak menjalankan ibadah haji.

Hikayat Abdullah

Hikayat Abdullah bisa dikatakan merupakan sebuah otobiografi, yang merupakan hasil karya Abdullah. Hal ini membuat hikayat ini istimewa dalam khazanah Sastra Melayu. Karya sastra ini ditulis pada pertengahan abad ke-19.

Abdullah banyak menceritakan hal-hal yang menarik dari paruh pertama abad ke-19. Misalkan mengenai kota Malaka dan Singapura, beberapa tokoh seperti John Stamford Raffles, Lord Minto, Farquhar dan Timmerman Thijssen. Selain itu ia banyak sekali menceritakan tentang kehidupan sehari-hari bangsa Melayu kala itu.

Daftar karya

Abdullah terkenal karena menulis hikayat-hikayat yang bersifat realistis dan kontemporer. Abdullah Munsyi dianggap seorang pemikir yang melampaui abadnya.

Karya asli

Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dari Singapura sampai ke Kelantan
Hikayat Abdullah
Kisah Pelayaran Abdullah dari Singapura sampai ke Mekah
Syair Singapura Terbakar
Syair Kampung Gelam Terbakar
Ceretera Kapal Asap
Ceretera Haji Sabar Ali

Loading

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *